Entri Populer mengenai surat ijin mengemudikan kendaraan bermotor

Sabtu, 28 Februari 2015

Nyeri punggung bawah yang timbul dapat mengakibatkan kehilangan jam kerja sehingga mengganggu produktivitas kerja

Rumah Makan Padang, Tidak Pernah Padam Tips Dipercaya Konsumen Dalam Berjualan Online Peluang Usaha Bisnis Karaoke Keluarga Hal Yang Penting Diperhatikan, Saat Akan Membuka Toko Online Cemilan Unik Dan Murah, Inspirasi Untuk Usaha Analisa Waralaba Alfamart Dan Indomaret Cafe Dan Resto Murah Meriah, Raih Keuntungan Berlimpah Untung Rugi Menyewa Tempat Usaha Bosan Ditempat Kerja ? Baca Tips Berikut Tips Dipercaya Konsumen Dalam Berjualan Online Hal Yang Penting Diperhatikan, Saat Akan Membuka Toko Online Arti Sistem Dropship Dan Reseller di Bisnis Online Shop Tips Menjual Barang Bekas Via Online Di Internet Manfaatkan Youtube Untuk Mendapatkan Uang Mengenal Bisnis Online Program Afiliasi Untung Besar Dengan Menjual Barang Ke Luar Negri #Mengenal #Google #Adwords Untuk #Promosi #Online

Foto kiriman Arbib 081380783912 (@tokoarbib) pada

Jagalah kesehatan tulang belakang anda Salah satu penyebab rematik adalah terjadinya pergeseran  ligamentum ( pita jaringan kuat yang menghubungkan  persendian ) pada persendian.Terjadinya pergeseran tersebut di  karenakan kerja, olah raga dan cuaca  Memperkuat tulang dengan membantu penyerapan kalsium Yang membantu penyerapan kalsium pada tulang adalah sinar  matahari, hormon estrogen pada wanita dan kondisi tubuh yang  sehat. Untuk mengganti sinar matahari maka dapat di gunakan  terapi penyinaran yaitu terapi sinar infra merah, karena sinar  infra merah dapat menyerap sampai ke lapisan kulit dan bahkan  sampai ke tulang. Menghilangkan dan mencegah virus toxoplasma  Virus Toxoplasma adalah virus yang di timbulkan oleh bulu  hewan peliharaan seperti kucing. Virus Toxo dapat menyerang  ovarium pada wanita sehingga ovarium tidak dapat  menghasilkan indung telur yang dapat menyebabkan  kemandulan. Dengan melakukan terapi penyinaran maka dapat  menghilangkan dan mencegah virus Toxo masuk ke dalam  tubuh. #MENJUAL #BERBAGAI #MACAM #ALAT #TERAPI #KESEHATAN, #ALAT #OLAH RAGA, #ALAT #PIJAT, #ALATPELANGSING, #BARANG -  #PAMERAN #MINIQ, #EYEMASSAGER, #ALATPIJATKAKI #FOOTMASSAGE #SUNMAS, #ALATPIJATLEHER #NECKTHERAPHY DAN #NECKMASSAGER

Foto kiriman Arbib 081380783912 (@tokoarbib) pada

Membantu terapi hnp atau saraf terjepit Salah satu penyebab rematik adalah terjadinya pergeseran  ligamentum ( pita jaringan kuat yang menghubungkan  persendian ) pada persendian.Terjadinya pergeseran tersebut di  karenakan kerja, olah raga dan cuaca  Memperkuat tulang dengan membantu penyerapan kalsium Yang membantu penyerapan kalsium pada tulang adalah sinar  matahari, hormon estrogen pada wanita dan kondisi tubuh yang  sehat. Untuk mengganti sinar matahari maka dapat di gunakan  terapi penyinaran yaitu terapi sinar infra merah, karena sinar  infra merah dapat menyerap sampai ke lapisan kulit dan bahkan  sampai ke tulang. Menghilangkan dan mencegah virus toxoplasma  Virus Toxoplasma adalah virus yang di timbulkan oleh bulu  hewan peliharaan seperti kucing. Virus Toxo dapat menyerang  ovarium pada wanita sehingga ovarium tidak dapat  menghasilkan indung telur yang dapat menyebabkan  kemandulan. Dengan melakukan terapi penyinaran maka dapat  menghilangkan dan mencegah virus Toxo masuk ke dalam  tubuh. #MENJUAL #BERBAGAI #MACAM #ALAT #TERAPI #KESEHATAN, #ALAT #OLAH RAGA, #ALAT #PIJAT, #ALATPELANGSING, #BARANG -  #PAMERAN #MINIQ, #EYEMASSAGER, #ALATPIJATKAKI #FOOTMASSAGE #SUNMAS, #ALATPIJATLEHER #NECKTHERAPHY DAN #NECKMASSAGER

Foto kiriman Arbib 081380783912 (@tokoarbib) pada

Terapi di sepanjang tulang belakang sangat baik untuk menjaga kesehatan dan ke bugaran tubuh Salah satu penyebab rematik adalah terjadinya pergeseran  ligamentum ( pita jaringan kuat yang menghubungkan  persendian ) pada persendian.Terjadinya pergeseran tersebut di  karenakan kerja, olah raga dan cuaca  Memperkuat tulang dengan membantu penyerapan kalsium Yang membantu penyerapan kalsium pada tulang adalah sinar  matahari, hormon estrogen pada wanita dan kondisi tubuh yang  sehat. Untuk mengganti sinar matahari maka dapat di gunakan  terapi penyinaran yaitu terapi sinar infra merah, karena sinar  infra merah dapat menyerap sampai ke lapisan kulit dan bahkan  sampai ke tulang. Menghilangkan dan mencegah virus toxoplasma  Virus Toxoplasma adalah virus yang di timbulkan oleh bulu  hewan peliharaan seperti kucing. Virus Toxo dapat menyerang  ovarium pada wanita sehingga ovarium tidak dapat  menghasilkan indung telur yang dapat menyebabkan  kemandulan. Dengan melakukan terapi penyinaran maka dapat  menghilangkan dan mencegah virus Toxo masuk ke dalam  tubuh. #MENJUAL #BERBAGAI #MACAM #ALAT #TERAPI #KESEHATAN, #ALAT #OLAH RAGA, #ALAT #PIJAT, #ALATPELANGSING, #BARANG -  #PAMERAN #MINIQ, #EYEMASSAGER, #ALATPIJATKAKI #FOOTMASSAGE #SUNMAS, #ALATPIJATLEHER #NECKTHERAPHY DAN #NECKMASSAGER

Foto kiriman Arbib 081380783912 (@tokoarbib) pada

Posisi statis dalam bekerja kadang-kadang tidak dapat terhindarkan. Bila keadaan statis tersebut bersifat kontinu maka dapat menyebabkan gangguan kesehatan antara lain nyeri punggung bawah. Nyeri punggung bawah yang timbul dapat mengakibatkan kehilangan jam kerja sehingga mengganggu produktivitas kerja. Duduk yang lama menyebabkan beban yang berlebihan dan kerusakan jaringan pada vertebra lumbal. Kursi yang ergonomis digunakan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi terjadinya nyeri punggung bawah. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan keluhan nyeri punggung bawah pada pembatik yang bekerja menggunakan kursi ergonomis dan non ergonomis Metode Penelitian: Jenis penelitian yang dilakukan menggunakan metode deskriptif analitik dengan menggunakan rancangan penelitian potong lintang (crossectional) untuk mengetahui perbedaan antara dua variabel yang dilakukan pada saat bersamaan (point time approact). Hasil: Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh tenaga Fisioterapis didapatkan hasil bahwa terdapat 17 responden yang mengalami nyeri (85%) dan 3 responden yang tidak mengalami nyeri (15%). Dari 17 responden yang mengalami nyeri punggung bawah, sebanyak 5 responden sudah menggunakan kursi kerja ergonomis dan 12 responden yang menggunakan kursi kerja non ergonomis. Pengukuran kursi kerja yang digunakan responden dan pengukuran antropometri, kursi kerja yang ergonomis yang digunakan responden adalah kursi kerja nomor I, II, III, VII, VIII, IX dan XI dengan ukuran tinggi: 89 cm, tinggi alas duduk 50 cm, lebar 37 cm, panjang 44 cm dan tinggi sandaran punggung 33 cm. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan antara keluhan nyeri punggung bawah pada penggunaan kursi kerja ergonomis dan non ergonomis yang dapat dilihat dari hasil uji fisher exact test pada nilai sig 2-sided > alfa (0,270 > 0,05). Kata Kunci: Nyeri Punggung Bawah, Kursi Kerja ¹ Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Respati Yogyakarta ² Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Respati Yogyakarta ³ Program Studi Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta DIFFERENCE IN COMPLAINTS FOR LOW BACK PAIN IN THE USE OF ERGONOMIC AND NON ERGONOMIC WORK CHAIR IN BATIK WORKERS AT PLENTONG BATIK FACTORY YOGYAKARTA Liza Nila Andika 1 , Ariyanto Nugroho 2 , Bambang Suwerda 3 ABSTRACT Background: Static position during the work is sometimes unavoidable. If the condition continues, it can cause health problems such as low back pain. Low back pain may disrupt productivity. Sitting for a long time will cause excessive burden and tissue damage of lumbal vertebra. Ergonomic chair is used as an effort to minimize the incidence of low back pain. Objective: To identify the difference in complaints for low back pain in batik workers using ergonomic and non ergonomic work chair. Method: The study was analytic descriptive with cross sectional design to identify the difference between two variables undertaken with a point time approach. Results: The result of examination made by physiotherapist showed that 17 respondents (85%) encountered pain and 3 respondents (15%) did not encounter pain. Out of 17 respondents that had low back pain, 5 had used ergonomic work chair and 12 did not use ergonomic work chair. The result of measurement on work chair used by the respondents and anthropometric measurement showed that ergonomic work chairs used by the respondents were work chairs no. I, II, III, VII, VIII, IX, and XI with height 89 cm, height of cushion 50 cm, width 37 cm, length 44 cm and height of backrest 33 cm. Conclusion: There was no difference in complaints for low back pain in the use of ergonomic and non ergonomic work chairs as indicated from the result of Fisher exact test in score of sig 2-sided > alpha (0.270 > 0.05). Keywords: low back pain, work chair, ergonomic aspects, batik factory 1. Public Health Student, Respati University Yogyakarta 2. Public Health Study Program, Respati University Yogyakarta 3. Environmental Health Study Program, Health Polytechnic Yogyakarta PENDAHULUAN Penerapan faktor ergonomi sangat penting dilakukan, terutama pada sektor industri maupun jasa, yaitu dalam pengaturan sikap, tata cara dan perencanaan alat kerja yang tepat. Masalah yang diakibatkan oleh faktor yang tidak ergonomi mempunyai dampak buruk terhadap pekerja yang akan menyebabkan gangguan baik secara fisik maupun secara psikologis. Gangguan ini biasanya berhubungan dengan pekerjaan dimana terjadi ketidaksesuaian antara keadaan tubuh dengan kapasitas fisik tubuh seseorang (1) . Ergonomi juga memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya desain suatu sistem kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia, desain stasiun kerja untuk alat pekerja visual (visual display unitstation). Hal itu adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja, desain untuk perkakas kerja (handtools) untuk mengurangi kelelahan kerja, desain suatu peletakan instrumen dan sistem pengendalian agar didapat optimasi, efisiensi kerja dan hilangnya resiko kesehatan akibat metoda kerja yang kurang tepat (2) . Terkait dengan penyakit akibat kerja atau hubungan kerja yang termasuk dalam lingkup locomotor disorders, antara lain adalah nyeri punggung bawah. Penyakit tersebut merupakan salah satu jenis penyakit yang perlu mendapatkan perhatian serius di lingkungan perusahaan dan tenaga kerja, mengingat besarnya kompensasi biaya dan waktu kerja yang hilang akibat timbulnya penyakit tersebut (3) . Low back pain (nyeri punggung bawah) merupakan fenomena yang seringkali dijumpai pada setiap pekerjaan. Posisi statis dalam bekerja kadang-kadang tidak dapat terhindarkan. Bila keadaan statis tersebut bersifat kontinu maka dapat menyebabkan gangguan kesehatan antara lain nyeri punggung bawah. Nyeri punggung bawah yang timbul dapat mengakibatkan kehilangan jam kerja sehingga mengganggu produktivitas kerja. Duduk yang lama menyebabkan beban yang berlebihan dan kerusakan jaringan pada vertebra lumbal. Prevalensi nyeri punggung bawah karena posisi duduk besarnya 39,7%, di mana 12,6% sering menimbulkan keluhan, 1,2% kadang-kadang menimbulkan keluhan dan 25,9% jarang menimbulkan keluhan (4) . Nyeri pungung bawah sering dijumpai dalam praktek sehari-hari terutama di negara-negara industri termasuk Indonesia. Diperkirakan 70-85% dari seluruh penduduk di negara maju pernah mengalami episode ini selama hidupnya. Prevalensi tahunannya bervariasi dari 15-45% dengan point prevalence rata-rata 30%, sekitar 80-90% pasien nyeri punggung bawah menyatakan bahwa mereka tidak melakukan usaha apapun untuk mengobati penyakitnya. Di Amerika Serikat keluhan nyeri punggung bawah ini menempati urutan kedua, keluhan tersering setelah nyeri kepala. Data kasus menunjukkan bahwa pasien usia lebih dari 40 tahun yang datang dengan keluhan nyeri punggung bawah jumlahnya cukup banyak dan lebih dari 80% penduduknya pernah mengeluhkan nyeri punggung bawah. Saat ini, 90 % kasus nyeri punggung bawah bukan disebabkan oleh kelainan organik melainkan oleh kesalahan posisi tubuh dalam bekerja. Menurut data, dalam satu bulan rata-rata 23 % pekerja tidak bekerja dengan benar dan absen kerja selama 8 hari dikarenakan sakit pinggang. Berdasarkan hasil survei tentang akibat sakit leher dan pinggang, produktivitas kerja dapat menurun sehingga hanya tinggal 60 % (5) . Banyak penerapan ergonomi yang hanya berdasarkan sekedar “common sense” (dianggap suatu hal yang sudah biasa terjadi), dan hal itu benar, jika sekiranya suatu keuntungan yang besar bisa didapat hanya sekedar penerapan suatu prinsip yang sederhana. Hal ini biasanya merupakan kasus dimana ergonomi belum dapat diterima sepenuhnya sebagai alat untuk proses desain, akan tetapi masih banyak aspek ergonomi yang jauh dari kesadaran manusia. Karakteristik fungsional dari manusia seperti kemampuan penginderaan, waktu respon/tanggapan, daya ingat, posisi optimum tangan dan kaki untuk efisiensi kerja otot merupakan suatu hal yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat awam. Agar didapat suatu perancangan pekerjaan maupun produk yang optimum daripada tergantung dan harus dengan “trial and error” maka pendekatan ilmiah harus segera diadakan (2) . Pada observasi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 24 Oktober 2011 di pabrik batik Plentong diketahui jumlah pembatik adalah 20 orang, 10 laki-laki dan 10 perempuan. Jumlah kursi ergonomis 7 dan non ergonomis 13. Tingkat pendidikan para pembatik mayoritas tamatan sekolah dasar. Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di pabrik batik Plentong belum maksimal karena masih ditemukan kursi kerja pembatik yang belum sesuai dengan antropometri para pembatik, tata letak peralatan yang belum sesuai, posisi kerja yang monotoni. Semua pembatik yang bekerja baik dengan posisi berdiri, duduk di kursi yang ergonomis dan non ergonomis semuanya mengeluh sering merasa pegal, nyeri di daerah bahu, pinggang dan leher. Bahkan pembatik mengatakan bahwa keluhan nyeri yang dirasakan sangat mengganggu aktivitas sehari- hari. Penyebab keluhan ini belum diketahui secara pasti. Suma’mur (1994) menyatakan bahwa penerapan ergonomi pada perusahaan kecil dan sektor informal belum mendapat perhatian yang layak. Interaksi antara sarana dan prasarana dengan tenaga kerja tidak sepenuhnya diperhatikan, sebagai contoh adalah terjadinya gangguan sistem gerak (6) . Berdasarkan observasi bahwa penerapan kesehatan dan keselamatan kerja di Pabrik Batik Plentong, peneliti ingin meneliti tentang perbedaan keluhan nyeri punggung bawah pada penggunaan kursi kerja ergonomis dan non ergonomis pembatik di Pabrik Batik Plentong Yogyakarta. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional, data yang diambil adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan data menggunakan hasil pemeriksaan dari tenaga Fisioterapis Terakreditasi dan kuesioner. Penelitian dilaksanakan tanggal 6 juni 2012. Teknik sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling. Sampel penelitian ini yaitu responden yang bekerja di bagian pembatikan yaitu sebanyak 20 pembatik. Teknik analisa data dari hasil penelitian ini dilakukan dengan uji statistik Fisher Exact Test. Jalannya penelitian dimulai yaitu yang pertama persiapan penelitian yaitu meliputi pengumpulan bahan pustaka, pengajuan judul, setelah disetujui kemudian studi pendahuluan dilanjutkan penyusunan proposal penelitian dan konsultasi dosen pembimbing, kemudian mengadakan seminar proposal. Tahap kedua yaitu tahap pelaksanaan meliputi pengurusan izin penelitian, pengadaan alat pengumpulan data, pemeriksaan oleh tenaga ahli, pengukuran antropometri oleh tenaga dari Balai Hiperkes, pengumpulan data editing, coding dan scoring pada hasil penelitian. Tahap ketiga yang merupakan tahap akhir penelitian menyimpulkan hasil penelitian, bimbingan dengan pembimbing I dan pembimbing II, mengadakan seminar hasil Skripsi, menyerahkan laporan penelitian dan publikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 1. Deskripsi Karakteristik Responden Karakteristik responden penelitian ini diamati berdasarkan umur, jenis kelamin, lama kerja, masa kerja dan pengukuran antropometri.Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut: Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Pada Pembatik di Pabrik Batik Plentong Yogyakarta Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Umur ≤ 31 tahun > 31 tahun 3 17 15 85 Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki 10 10 50,0 50,0 Lama kerja ≤ 8 jam ˃ 8 jam 18 90,0 2 10,0 Masa Kerja 0 – 10 tahun 11 - 20 tahun 21 - 30 tahun 31 – 40 tahun 41 – 50 tahun 5 3 3 6 3 25 15 15 30 15 Jumlah 20 100,0 Sumber: Data Primer 2012 Karakteristik responden berdasarkan umur responden diketahui umur responden terbanyak pada umur > 31 tahun dan termasuk golongan dewasa tua terdapat 14 orang (70,0%) dan paling sedikit umur ≤ 31 tahun dan tergolong dewasa muda sebanyak 2 orang (10,0%). Berdasarkan lama kerja diketahui lama kerja sebagian besar responden adalah ≤ 8 jam sebanyak 18 orang (90,0%). Dilihat dari jenis kelamin responden bahwa jenis kelamin responden laki-laki dan perempuan berjumlah 10 orang (50,0%). Berdasarkan masa kerja responden sebagian besar berada pada interval 31-40 tahun (30,0%). 2. Hasil Pengukuran Kursi Kerja Pembatik Tabel 4.2. Pengukuran Kursi Kerja Responden N o Ket Kursi I Kursi II Kursi III Kursi VII Kursi VIII Kursi IX Kursi XI 1 Tinggi 89 cm 90 cm 90 cm 90 cm 89 cm 90 cm 89 cm 2 Panjang 44 cm 45 cm 45 cm 44 cm 46 cm 46 cm 45 cm 3 Lebar 37 cm 37 cm 37 cm 37 cm 39 cm 39 cm 36 cm 4 Tsp 33 cm 33 cm 33 cm 33 cm 34 cm 34 cm 33 cm 5 Tad 50 cm 47 cm 46 cm 46 cm 47 cm 47 cm 49 cm Sumber : Data Primer 2012 Ket : Tsp (Tinggi sandaran punggung) Tad (Tinggi alas duduk) Berdasarkan hasil penelitian pada pengukuran kursi kerja, 7 diantaranya sudah memenuhi syarat atau sudah ergonomis dilihat dari tinggi alas duduk dari kursi kerja dengan tinggi lutut duduk pekerja, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran tinggi kursi kerja I adalah dengan tinggi 89 cm, lebar 37 cm, panjang 44 cm, tinggi sandaran punggung 33 cm dan tinggi alas duduk 50 cm. Pada kursi kerja II dengan tinggi 90 cm, panjang 44 cm, lebar 37 cm, tinggi sandaran punggung 33 cm dan tinggi alas duduk 47 cm. Pada kursi kerja III dengan tinggi 90 cm, panjang 45 cm, lebar 37 cm, tinggi sandaran punggung 33 cm dan tinggi alas duduk 46 cm. Pada kursi kerja VII dengan tinggi 90 cm, panjang 44 cm, lebar 37 cm, tinggi sandaran punggung 33 cm dan tinggi alas duduk 46 cm. Pada kursi kerja VIII dengan tinggi 89 cm, panjang 46 cm, lebar 39 cm, tinggi sandaran punggung 34 cm dan tinggi alas duduk 47 cm. Pada kursi kerja IX dengan tinggi 90 cm, panjang 46 cm, lebar 39 cm, tinggi sandaran punggung 34 cm dan tinggi alas duduk 47 cm. Pada kursi kerja XI dengan tinggi 89 cm, panjang 45 cm, lebar 36 cm, tinggi sandaran punggung 33 cm dan tinggi alas duduk 49 cm. 3. Pemeriksaan Nyeri Punggung Bawah Pemeriksaan nyeri punggung bawah dilakukan oleh tenaga Fisioterapis. Tabel 4.3. Distribusi Karakteristik Menurut Keluhan Nyeri Punggung Bawah Responden No Keluhan Nyeri Punggung Bawah F % 1 Mengalami Nyeri 17 85 2 Tidak Mengalami Nyeri 3 15 Total 20 100 Sumber: Data Primer 2012 Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami nyeri sebanyak 17 orang (85%). 4. Perbedaan Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pada Penggunaan Kursi Kerja Ergonomis dan Non Ergonomis. Tabel 4.4 Analisis Perbedaan Tingkat Keluhan Nyeri Punggung Bawah Dengan Pengggunan Kursi Ergonomis dan Non Ergonomis Kursi kerja Keluhan Punggung Bawah Sig (2-sided) Mengalami Nyeri Tidak Mengalami Nyeri n % n % Ergonomis 5 29,4 2 66,7 0,270 Non Ergonomis 12 70,6 1 33,3 Total 17 100 3 100 Sumber: Data Primer 2012 Dari tabel 4.4 di atas dapat dapat dilihat bahwa pada hasil pengujian statistik nilai Sig (2- sided) 0,270 > 0,05, berarti tidak ada perbedaan antara keluhan nyeri punggung bawah dengan penggunaan kursi kerja ergonomis dan non ergonomis, dengan demikian bahwa responden mengalami nyeri punggung bawah pada penggunan kursi kerja ergonomis dan non ergonomis. PEMBAHASAN 1. Karakteristik Penelitian Jumlah tenaga kerja yang menjadi responden pada penelitian ini adalah 20 orang pembatik. Responden yang paling banyak berada pada usia > 40 tahun terdapat 14 orang (70,0%), dan paling sedikit berada pada usia < 25 tahun terdapat 2 orang (10,0%). Menurut Tarwaka dkk (2004), umur seseorang berbanding langsung dengan kapasitas fisik sampai batas tertentu dan mencapai puncaknya pada umur 25 tahun (7) . Pada umur > 40 tahun kekuatan otot, kemampuan sensoris-motoris akan menurun. Menurut Sudoyo dkk (2006) nyeri punggung bawah merupakan keluhan yang berkaitan erat dengan usia. Biasanya nyeri ini mulai dirasakan pada mereka pada usia dekade ke dua dan insiden tinggi dijumpai pada dekade ke lima (8) . Responden yang bekerja ≤ 8 jam perhari terdapat 18 orang (90,0%). Menurut Suma’mur (1996), lamanya seseorang bekerja sehari secara baik pada umumnya 6 – 8 jam, memperpanjang waktu kerja lebih dari kemampuan biasanya terlihat penurunan produktivitas serta kecenderungan untuk timbulnya kelelahan, penyakit akibat kerja dan kecelakaan (`9) . 2. Pengukuran Kursi Kerja Pembatik Hasil pengukuran kursi kerja dan antropometri responden tinggi badan, tinggi duduk, tinggi siku duduk, tinggi pinggul duduk, tinggi lutut duduk, panjang tungkai atas dan panjang tungkai bawah dengan rata-rata dan standar deviasi maka kursi kerja yang sesuai atau kursi yang ergonomis dari adalah 7 kursi. Nurmianto (2008), perancangan tempat kerja merupakan suatu aplikasi data antropometri, tetapi masih memerlukan dimensi fungsional secara statis (2) . 3. Pemeriksaan Nyeri Punggung Bawah Pemeriksaan nyeri punggung bawah responden oleh tenaga fisioterapis terakreditasi. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui perbedaan keluhan nyeri punggung bawah pada pembatik yang menggunakan kursi ergonomis dan non ergonomis. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa dari 20 responden yang diperiksa 17 orang diantaranya mengalami nyeri dan 3 orang tidak mengalami nyeri. Hal ini sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan pada pembatik. Responden yang mengalami nyeri punggung 5 orang sudah menggunakan kursi kerja ergonomis. Sedangkan 12 responden lainnya masih menggunakan kursi kerja non egonomis. 4. Perbedaan Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pada Penggunaan Kursi Kerja Ergonomis dan Non Ergonomis Berdasarkan hasil penelitian bahwa hasil pengujian statistik dengan Fisher Exact Test, taraf signifikansi α 5 % (0,05), jika Sig < 0,05 hasil penelitian menunjukkan nilai Sig (2-sided) 0,270 > 0,05, dengan demikian dinyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikansi antara keluhan nyeri dengan penggunaan kursi kerja ergonomis dan non ergonomis. Hal ini sejalan dengan penelitian Mete (2010), tentang perbedaan tingkat kelelahan dengan penggunaan stasiun kerja ergonomis dan non ergonomis pada karyawan bagian produksi ironing di PT. Mataram Tunggal Garment Yogyakarta (11) , hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan perbedaan yang signifikan antara tingkat kelelahan dengan penggunaan stasiun kerja ergonomis dan non ergonomis dengan nilai sig 2- tailed 0,242. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedan antara tingkat nyeri punggung bawah dengan penggunaan kursi krja eronomis dan non ergonomis, hal ini dapat dipengaruhi karena masa kerja responden sebagian besar ≥ 10 tahun, dimana penggunaan kursi kerja yang ergonomis ≤ 1 tahun. Hal ini terlihat bahwa dari 7 responden yang menggunakan kursi kerja ergonomis 5 diantaranya mengalami nyeri. Responden yang sudah menggunakan kursi kerja ergonomis sebagian belum menerapkan sikap bekerja duduk yang baik. Maka perbedaan keluhan nyeri punggung bawah antara pembatik yang menggunakan kursi kerja ergonomis dan non ergonomis menjadi tidak signifikan. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Tidak terdapat perbedaan yang dapat dilihat dari hasil uji Fisher Exact test dengan melihat nilai Sig (2-sided) 0,270 > 0,05, dengan demikian dinyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikansi antara keluhan nyeri dengan penggunaan kursi kerja ergonomis dan non ergonomis. B. Saran 1. Bagi Institusi Pendidikan UNRIYO Menjadi bahan pertimbangan membuat kebijakan dalam hal meningkatkan kesehatan pekerja melalui kerjasama dengan perusahaan-perusahaan untuk memberikan pengetahuan tentang pentingnya meningkatkan kesehatan pekerja melalui penyuluhan bagi pekerja. 2. Bagi Pabrik Batik Plentong Yogyakarta a. Meningkatkan pengetahuan pekerja tentang nyeri punggung bawah dengan melakukan kerjasama dengan tenaga kesehatan yang punya kompetensi di bidangnya untuk mengadakan penyuluhan tentang penyakit akibat kerja. b. Pabrik juga diharapkan menyediakan kursi kerja ergonomis yang lebih banyak lagi, sehingga pekerja lebih nyaman dan diharapkan meningkatkan produktivitas pekerja. 3. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan dan wawasan tentang nyeri punggung bawah, sebagai dasar untuk memberikan kontribusi nyata pengabdian kepada masyarakat yaitu dalam meningkatkan pengetahuan pekerja tentang nyeri sehingga penyakit akibat kerja bisa diminimalisir. 4. Bagi Peneliti Selanjutnya Dapat mengembangkan penelitian dengan meneliti faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya keluhan nyeri punggung bawah seperti umur, lama kerja, masa kerja, riwayat penyakit, status gizi, jenis kelamin dan kelainan musculoskeletal sehingga akan melengkapi hasil penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA (1) Santoso, A. (2009). Analisis Penerapan Aspek Ergonomis Pada Perancangan Kursi Di Laboratorium Dasar Elektronika Berbasis Teknologi Informasi. “Jurnal Ilmiah Program Studi Teknik Telekomunikasi Dan Navigasi Udara”. Tangerang : Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia. (2) Nurmianto, E. (2008). Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, Surabaya: Guna Widia (3) Nilamsari, N. (2004). Pengaruh Posisi Duduk Terhadap Kejadian Nyeri Punggung Bawah Pada Pengemudi Rosalia Indah Travel-Solo. “Tesis Program Studi Hiperkes/Ilmu Kesehatan Kerja Jurusan Ilmu-ilmu Kesehatan”. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada (4) Samara. Dkk. (2005). Sikap Membungkuk Dan Memutar Selama Bekerja Sebagai Faktor Risiko Nyeri Punggung Bawah. “Jurnal Juli-September Departemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja PT. Unilever”. Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. (5) Pratiwi, dkk. (2009). Beberapa Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pada Penjual Jamu Gendong. Jurnal Promosi Kesehatan Vol.4/No.1/Januari 2009. Semarang: Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. (6) Suma’mur. (1994). Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Jakarta: Sagung Seto (7) Tarwaka. dkk., (2004). Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Surakarta : Uniba Press (9) Sudoyo, dkk. (2006). Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (10) Suma’mur. (1996). Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Jakarta: CV Haji Masagung (12) Mete, K. L. (2010). Perbedaan Tingkat Kelelahan dengan Penggunaan Stasiun Kerja Ergonomis dan Non Ergonomis Pada Karyawan Bagian Produksi Ironing Di PT. Mataram Tunggal Garment Yogyakarta. “Skripsi Prodi S-1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan”. Yogyakarta: Universitas Respati Yogyakarta
Download   DOCX   
Other Research By Author

c